Fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar kita memang sangat kompleks dan beragam. Manusia layaknya wayang yang dimainkan oleh dalang. Manusia adalah lakon dalam kehidupan nyata, kita tidak perlu menutup mata bahwa diluar sana kehidupan masih sangat keras. Salah satunya adalah human trafficking, bahkan di suatu daerah hal tersebut masih menjadi budaya. Film berjudul “Jamila dan Sang Presiden” menguak salah satu tabir kehidupan nyata yang ada di muka bumi ini. Melalui film ini kita dapat mengetahui dunia lain tanpa harus terjun langsung. Film bukan hanya dapat dijadikan sebagai sarana refreshing belaka, meski film penuh dengan rekaan tapi kadang tidak jauh juga dari cermin kehidupan nyata.
Diawali dengan narasi dari Jamila yang menceritakan bahwa ia adalah korban dari human trafficking. Dirinya kemudian menyerahkan diri kepada polisi karena mengaku telah membunuh seorang pejabat tinggi Negara bernama Nurdin. Dia akhirnya ditempatkan di sebuah LP di luar kota. Disana, Jamila mendapatkan perlakuan kasar dari Ibu Ria, seorang sipir perempuan. Buku hariannya pun diambil oleh Ibu Ria. Dari buku harian itulah terkuak kehidupan Jamila yang kelam di masa lampau. Mulai dari ibunya yang menjualnya pada mucikari sampai ia menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Pada suatu hari, terjadi pertengkaran hebat antara Jamila dan Ibu Ria. Hal itu menyebabkan Jamila harus dikurung di sel isolasi. Hingga akhirnya dijatuhkan hukuman mati padanya kendati banyak masyarakat yang prihatin atas dirinya. Perlahan sikap Ibu Ria mulai mencair, ia membujuk Jamila untuk mengajukan perpanjangan sebelum ia di hukum mati. Namun Jamilah tetap pada pendiriannya, Jamilah hanya butuh Presiden karena ialah yang bertanggung jawab atas keadaan yang menimpanya selama ini. Sehari sebelum hukuman Jamila dijatuhkan, Ibrahim menemui Susi, PSK yang telah merawat Jamila selama ini. Susi menceritakan saat dulu Jamila diberikan kemewahan oleh Nurdin. Sampai pada Jamila harus terpukul menerima kenyataan bahwa Nurdin akan menikah. Pada suatu ketika, Jamila bertemu Nurdin di sebuah kamar hotel. Disanalah Jamila memberitahu Nurdin kalau dirinya telah hamil. Namun Nurdin malah marah – marah dan menodongkan pistol pada Jamila. Pada suatu kesempatan, Jamila merebut pistol itu dan menembakkannya pada Nurdin untuk melindungi dirinya yang terancam. Sementara itu di dalam penjara, Jamila tetap tidak mengajukan perpanjangan waktu. Sampai pada akhirnya ia diantar ke tempat eksekusi. Suara peluru ditembakkan, mengimplikasikan bahwa akhirnya Jamila di hukum mati.
Film ini sangat layak diacungi jempol, karena dapat memberikan pelajaran bagi kita semua tentang arti sebuah kehidupan. Kandungan nilai moral dapat menjadikan guru dalam kehidupan nyata. Film ini tidak hanya dapat ditonton lalu dilupakan, tapi juga dapat dijadikan sebagai renungan moral.