Kamis, 28 Juli 2011

JAMILA HANYA BUTUH PRESIDEN

Fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar kita memang sangat kompleks dan beragam. Manusia layaknya wayang yang dimainkan oleh dalang. Manusia adalah lakon dalam kehidupan nyata, kita tidak perlu menutup mata bahwa diluar sana kehidupan masih sangat keras. Salah satunya adalah human trafficking, bahkan di suatu daerah hal tersebut masih menjadi budaya. Film berjudul “Jamila dan Sang Presiden” menguak salah satu tabir kehidupan nyata yang ada di muka bumi ini. Melalui film ini kita dapat mengetahui dunia lain tanpa harus terjun langsung. Film bukan hanya dapat dijadikan sebagai sarana refreshing belaka, meski film penuh dengan rekaan tapi kadang tidak jauh juga dari cermin kehidupan nyata.
Diawali dengan narasi dari Jamila yang menceritakan bahwa ia adalah korban dari human trafficking. Dirinya kemudian menyerahkan diri kepada polisi karena mengaku telah membunuh seorang pejabat tinggi Negara bernama Nurdin. Dia akhirnya ditempatkan di sebuah LP di luar kota. Disana, Jamila mendapatkan perlakuan kasar dari Ibu Ria, seorang sipir perempuan. Buku hariannya pun diambil oleh Ibu Ria. Dari buku harian itulah terkuak kehidupan Jamila yang kelam di masa lampau. Mulai dari ibunya yang menjualnya pada mucikari sampai ia menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Pada suatu hari, terjadi pertengkaran hebat antara Jamila dan Ibu Ria. Hal itu menyebabkan Jamila harus dikurung di sel isolasi. Hingga akhirnya dijatuhkan hukuman mati padanya kendati banyak masyarakat yang prihatin atas dirinya. Perlahan sikap Ibu Ria mulai mencair, ia membujuk Jamila untuk mengajukan perpanjangan sebelum ia di hukum mati. Namun Jamilah tetap pada pendiriannya, Jamilah hanya butuh Presiden karena ialah yang bertanggung jawab atas keadaan yang menimpanya selama ini. Sehari sebelum hukuman Jamila dijatuhkan, Ibrahim menemui Susi, PSK yang telah merawat Jamila selama ini. Susi menceritakan saat dulu Jamila diberikan kemewahan oleh Nurdin. Sampai pada Jamila harus terpukul menerima kenyataan bahwa Nurdin akan menikah. Pada suatu ketika, Jamila bertemu Nurdin di sebuah kamar hotel. Disanalah Jamila memberitahu Nurdin kalau dirinya telah hamil. Namun Nurdin malah marah – marah dan menodongkan pistol pada Jamila. Pada suatu kesempatan, Jamila merebut pistol itu dan menembakkannya pada Nurdin untuk melindungi dirinya yang terancam. Sementara itu di dalam penjara, Jamila tetap tidak mengajukan perpanjangan waktu. Sampai pada akhirnya ia diantar ke tempat eksekusi. Suara peluru ditembakkan, mengimplikasikan bahwa akhirnya Jamila di hukum mati.
Film ini sangat layak diacungi jempol, karena dapat memberikan pelajaran bagi kita semua tentang arti sebuah kehidupan. Kandungan nilai moral dapat menjadikan guru dalam kehidupan nyata. Film ini tidak hanya dapat ditonton lalu dilupakan, tapi juga dapat dijadikan sebagai renungan moral.

PAMAN GOBER naik KUDA PUTIH menuju ke KOLAM DIKURAS

Pada setiap diri manusia semestinya terdapat rasa untuk ingin selalu menjadi pemenang dalam kondisi apapun. Mendapat suatu hal yang diinginkannya yang terkadang terlepas dari sifat kemanusiaan maupun kecerdasannya. Dan juga tidak memperdulikan halal atau tidak cara yang dipergunakan.
Dewasa ini, telah banyak kita lihat atau dengar tentang perilaku kehidupan orang-orang yang berkuasa yang cenderung mati rasa atas kehidupan disekitarnya. Mereka berkehidupan serba “wah” sementara disekitarnya masih banyak orang-orang yang tidak mampu. Dalam bidang pekerjaan pun orang tersebut masih melakukan persaingan yang tidak fair. Melakukan segala cara agar tujuannya dapat tercapai. Mengesampingkan pikiran rasional, hati, dan yang utama adalah DOSA. Mereka akan dengan mudahnya menyingkirkan orang-orang yang berusaha menghalanginya.
Disamping itu semua, tentunya masih ada orang-orang yang mampu memanfaatkan sisi negative dalam dirinya untuk melakukan hal yang masih bisa dipandang ‘beradab’. Orang yang di hormati oleh masyarakat sekitar karena garis keturunannya memang biasanya cenderung bersifat congkak atau sombong. Namun sifat tersebut dapat membuahkan suatu hal yang positif.
Hal ini mengingatkan kita pada cerpen karya Motinggo Busye yang berjudul Kuda Putih. Sikil-sang tokoh utama adalah keturunan dari orang yang terpandang, maka ia sangat disegani masyarakat sekitar. Dengan bermodal latar belakang kehidupannya, sang tokoh dapat meraih keinginannya tanpa harus berusaha keras seperti manusi-manusia lainnya.
Seperti halnya cerpen milik Seno Gumirah Ajidarma yang berjudul Kematian Paman Gober, sangat kental akan pentingnya sebuah status social yang dipandang dari sudut pandang materi. Meski sang tokoh-Paman Gober-mempunyai sifat yang licik dan tak peduli dengan sesame, namun Paman Gober tetap disegani oleh masyarakat.
Kembali kita tengok pada cerpen Kuda Putih. Dalam cerpen tersebut masih sarat akan nilai budaya. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa, meski sang tokoh tergolong berusia muda, namun orang-orang disekitarnya menggunakan Bahasa Krama (bahasa yang digunakan untuk orang yang lebih tua / yang dihormati) saat sedang berbicara. Maka, kedua cerpen tersebut sudah mewakili bahwa status social dapat diukur dari garis keturunan dan juga materi. Kadang bagi kita hal tersebut terasa tidak adil, namun apa dikata inilah cermin kehidupan yang sesungguhnya.
Manusia tak lagi memelihara kehalalan dalam mencapai tujuan. Arti kemanusiaan tak lagi dihiraukan. Seperti yang telah terungkap dalam cerpen karya H.B.Jassin yang berjudul Bila Kolam Dikuras. “Pada saat orang-orang berebut untuk mendapat ikan, pada saat itulah orang-orang sudah lupa akan arti kemanusiaan. Orang-orang menghalalkan segala cara agar mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya. Walau pada akhirnya samapai ada korban jiwa, tapi orang-orang itu hanya menganggap angin lalu.”. dari paparan tersebut telah terlihat jelas bahwa dewasa ini, masyarakat telah menomorsatukan ego masing-masing tanpa memikirkan orang lain.
Dari ketiga cerpen yang telah disebutkan diatas. Dapat kita nilai bersama bahwa kehidupan begitu kejam, segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuan dan sepertinya hal itu telah menjadi budaya. Namun, jangan jadikan hal tersebut menjadi tolak ukur kita untuk menjalani hidup.

Budaya Barat dan Remaja Indonesia

Remaja Indonesia. Remaja adalah masa yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh, mulai dari pengaruh buruk dan pengaruh baik. Apabila pengaruh baik mengisi pikiran remaja, tentunya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Namun sebaliknya, apabila telah terpengaruh sesuatu yang buruk tentunya akan selalu merugikan. Masa remaja adalah masa dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya untuk menjadi dewasa. Dalam rentang waktu tersebut tentunya mereka mencoba banyak hal, entah itu perbuatan positif ataupun negative. Mereka akan melakukan apapun untuk mengobati rasa penasarannya terhadap suatu hal.
Dewasa ini, telah marak beredar film-film Hollywood. Dalam film tersebut ditayangkan berbagai macam kehidupan remaja yang sarat dengan pergaulan bebas. Mengingat kemajuan IPTEK saat ini sudah pesat, maka akan dengan mudah para remaja Indonesia untuk mendapatkan film-film yang nantinya akan merusak moral para remaja. Semakin dilarang, tentunya mereka akan semakin penasaran.
Sepertinya pergaulan bebas kini bukan hal yang tabu lagi bagi masyarakat. Selebriti Indonesia pun tidak mau kalah. Seperti yang kita ketahui, berita heboh beberapa pekan yang lalu tentang video mesum antara Luna Maya dan Ariel. Semua orang dapat dengan mudah men-download video tersebut. Anak-anak dan remaja yang belim pantas melihat tontonan seperti itu dapat dengan mudah dan sewaktu-waktu menikmati pertunjukan yang tidak bermoral itu.
Apakah itu merupakan satu tanda bahwa moral Bangsa Indonesia telah amburadul? Akan jadi Bangsa ini? Semua itu adalah pengaruh negative dari budaya barat. Masalah tersebut merupakan masalah yang sangat dan bukan hal yang main-main.
Sebagai remaja Indonesia seharusnya kita prihatin dengan keadaan seperti ini. Namun tak hanya ber-prihatin saja, namun kita juga harus mengambil tindakan. Sebagai seorang remaja, hendaknya kita dapat memilah-milah mana yang benar dan salah.
Masuknya budaya barat benyak membawa dampak, baik itu negative atau positif. Yang saat ini sedang menjadi sorotan adalah dampak negative budaya barat, utamanya pergaulan bebas. Sejatinya kita bisa membedakan budaya yang dapat diadaptasi dan yang tidak bisa. Semua itu bukan untuk siapa-siapa, melainkan demi kebaikan diri dan kebaikan bersama.